Mengenal Gejala Penyakit Klamidia

Kenali Gejala Penyakit Klamidia

Biasanya gejala Klamidia dapat diketahui ketika terdapat rasa kurang nyaman saat berhubungan badan atau saat buang air kecil.

Tanda serta gejala infeksi klamidia dapat terlihat pada bagian tubuh yang terinfeksi seperi: penis, vagina, tenggorokan atau rektum dan terkadang muncul rasa sakit perut serta panggul yang parah.

Klamidia juga bisa menyebabkan kerusakan serta komplikasi lain yang serius meskipun tanpa memunculkan gejala, pemeriksaan rutin sangat diperlukan untuk memastikan apakah memang terinfeksi Klamidia  atau tidak khususnya bagi mereka yang pernah berhubungan badan diluar nikah atau bukan suami istri yang sah.

Gejala Klamidia Yang Sering Muncul

Kebanyakan seseorang yang terkena klamidia merasa baik-baik saja dan bahkan tidak memunculkan gejala terkait dengan infeksi. Tidak munculnya gejala bukan berarti infeksi Klamidia tidak berbahaya.

  • Gejala klamidia biasanya akan muncul sekitar 3 minggu setelah paparan. Ada beberapa kasus, infeksi klamidia bisa muncul selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum akhirnya terdeteksi. 
  • Gejala komplikasi seperti penyakit radang panggul (PID) bisa memungkinkan terjadi apabila sudah lama setelah terpapar tetapi tidak segera di obati dengan baik.

Berikut ini ada beberapa gejala dan ciri-ciri seseorang terkena Klamidia, diantaranya:

  1. Nyeri saat buang air kecil: Baik wanita atau pria akan merasakan nyeri ketika buang air kecil (disuria). Hal tersebut bisa terjadi karena terdapat radang uretra (uretritis) yang merupakan saluran yang mengarah dari kandung kemih ke luar tubuh. Gejala lain seperti Frekuensi kencing (buang air kecil yang lebih sering).
  2. Nyeri ketika berhubungan atau ejakulasi yang terasa menyakitkan: Leher rahim merupakan salah satu tempat infeksi klamidia yang paling sering terjadi pada wanita. Hal tersebut bisa menyebabkan ketidaknyamanan ketika sedang berhubungan (dispareunia), terutama saat melakukan penetrasi yang mendalam. Rasa Nyeri juga bisa muncul karena adanya peradangan pada saluran tuba (PID). Untuk Pria akan terasa nyeri ketika ejakulasi.
  3. Nyeri perut dan panggul: Nyeri pada bagian panggul, perut, serta punggung bisa terjadi dengan dibarengi dengan penyakit radang panggul.
  4. Nyeri rektal: keluarnya cairan atau perdarahan. Infeksi pada bagian rektum akibat penularan virus ketika melakukan seks anal reseptif yang bisa menyebabkan sekret, pendarahan, nyeri dan gatal.
  5. Keputihan: Gejala klamidia yang juga sangat umum terjadi pada wanita adalah masalah keputihan. Cairan biasanya akan berwarna kekuningan. Sementara untuk pria, cairan dari penis akan terlihat bening dan tipis atau juga bisa berlendir dan kental.
  6. Kemerahan, Bengkak, Gatal atau Nyeri pada bagian penis atau vulva: Infeksi Klamidia bisa terjadi di area pembukaan penis pada pria atau di vulva atau vagina pada wanita.
  7. Pendarahan pada masa periode haid atau ketika sedang hubungan badan: Peradangan pada serviks akibat klamidia dapat menimbulkan pendarahan.
  8. Bengkak atau Nyeri pada bagian testis: Nyeri serta pembengkakan pada testis bisa terjadi akibat klamidia yang berjalan melewati uretra pada pria dan masuk pada bagian epididimis.

Gejala Langka Klamidia Yang Bisa Terjadi

Ada beberapa Gejala yang kurang umum terjadi jika seseorang terkena Klamidia, Diantaranya:

  • Nyeri perut pada bagian kanan atas (perihepatitis): Perihepatitis meruapakan salah satu kondisi di mana kapsul hati menjadi meradang. Gejala ini biasa dikenal sebagai sindrom Fitz-Hugh-Curtis, yang bisa menyebabkan rasa nyeri di bagian kanan atas perut.
  • Sakit tenggorokan: Penularan bakteri ketika melakukan oral seks bisa menyebabkan sakit pada tenggorokan, eksudat (nanah) pada amandel, serta rasa nyeri ketika menelan.
  • Nyeri persendian (artritis reaktif): Gejala peradangan bisa terjadi pada beberapa sendi (oligoartritis) yang dikombinasikan dengan peradangan pada bagian uretra serta mata. Artritis reaktif ini tidak disebabkan oleh suatu infeksi melainkan karena proses setelah munculnya peradangan, di mana tubuh akan membuat antibodi terhadap jaringannya sendiri (penyakit autoimun). Gejala ini Ini juga biasanya muncul pada 1-4 minggu setelah paparan bakteri dan akan menghilang pada waktu 3-12 bulan. Jika sudah mengalami artritis reaktif, pengobatan antibiotik mungkin tidak dapat mengatasinya.

Beberapa Komplikasi Akibat Klamidia

Komplikasi infeksi klamidia merupakan salah satu yang sangat ditakuti dan sangat serius. Komplikasi akibat infeksi klamidia sangat berbahaya bagi seseorang yang tidak mengalami gejala apapun. Dengan cara melakukan tes skrining rutin, seseorang bisa terhindar dari komplikasi dan bisa melakukan pengobatan yang tepat. 

  • Nyeri Panggul Kronis

Penyakit radang panggul bisa menyebabkan rasa nyeri panggul kronis. Komplikasi ini biassanya terjadi pada wanita yang pernah mengalami penyakit radang panggul akibat klamidia

  • Kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik atau kehamilan tuba merupakan salah satu kondisi di mana embrio yang ditanamkan di tuba falopi, bukan di dalam rahim. Saat tuba falopi terluka karena Radang Panggul, sel telur yang telah dibuahi bisa "tersangkut" dan tertanam pada area tuba falopi Ketika akan melakukan perjalanan ke rahim. Kehamilan ektopik biasanya akan menjadi kondisi serius yang bisa mengancam jiwa, terutama apabila pecah sebelum ditemukan

  • Komplikasi Kehamilan

Seorang wanita yang terkena klamidia dan tidak segera diobati selama kehamilan, akan meningkatkan  risiko beberapa komplikasi kehamilan. (Tes klamidia sangat dianjurkan bagi wanita yang pertama kali mengalami kehamilan).

Seorang wanita yang terinfeksi Klamidia sangat besar memiliki bayi prematur serta ada juga peningkatan risiko endometritis (radang rahim). Bayi yang lahir dari ibu yang menderita klamidia dan tidak segera diobati  lebih cenderung mengalami keguguran dan jika memiliki bayi, maka bayi tersebut akan mempunyai berat badan yang sangat rendah.

Risiko kematian pada bayi lebih tinggi bagi wanita hamil pengidap klamidia yang tidak segera diobati dibandingkan wanita yang tidak mengidap klamidia. Resiko kematian bisa teratasi jika wanita tersebut  dirawat sebelum dan selama masa kehamilan.

  • Resiko Terinfeksi HIV

Infeksi klamidia (serta infeksi menular seksual lainnya, IMS) juga memiliki peluang tinggi terinfeksi dan menularkan HIV karena memiliki 2 alasan, diantaranya:

Pertama: infeksi klamidia aktif menjadi peluang aktivitas virus HIV pada area kelamin. Apabila hal tersebut terjadi, seseorang akan menunjukkan jumlah viral load tidak terdeteksi pada saat melakukan tes darah tetapi viral load tersebut akan terdeteksi pada air mani atau sekresi vagina. Kebanyakan LSL yang terinfeksi Klamidia akan memiliki resiko tinggi terinfeks HIV juga.

Kedua: infeksi Klamidia bisa menyebabkan peradangan kelamin yang bisa merusak keutuhan jaringan mukosa yang melapisi antara leher rahim, vagina, rektum, dan  penis (uretra). Hal tersebut bisa menjadi akses virus HIV untuk masuk secara langsung ke aliran darah dan sistem limfatik.

  • Penyakit Radang Panggul (PID)

Klamidia juga bisa menyebabkan nyeri pada bagian panggul pada wanita. Bakteri akan berjalan melewati serviks dan rahim kemudian masuk ke saluran telur dan ovarium, sehingga bisa menyebabkan penyakit radang panggul (PID).

Wanita memiliki klamidia yang tidak segera diobati akan berkembang menjadi penyakit radang panggul, baik akut (simtomatik) atau subakut (dengan sedikit atau bisa tanpa gejala)..

Gejala penyakit radang panggul akan terasa sakit pada bagian panggul dan perut terkadang juga disertai dengan menggigil dan demam. Saat akan melakukan pemeriksaan, seorang wanita akan mengalami ketidaknyamanan ketika dokter memeriksa bagian leher rahimnya karena akan merasakan nyeri pada bagian ovariumnya pada satu atau kedua sisi perutnya (nyeri adneksa).

  • Infertilitas Wanita

Seseorang yang mengalami radang panggul (PID), pada area infeksi serta pembengkakan akan menimbulkan jaringan parut pada saluran tuba. Jaringan parut tersebut bisa menghalangi masuknya sperma ke tuba falopi, sehingga akan mencegah pembuahan dan bisa menyebabkan kemandulan.

Wanita memiliki klamidia akan mengalami penyakit radang panggul dan akan mengalami kemandulan. Walaupun tindakan operasi bisa dilakukan untuk menghilangkan jaringan parut pada tuba falopi, akan tetapi tindakan operasai tersebut akan beresiko menimbulkan kehamilan ektopik.

  • Infertilitas Pria

Seseorang pria yang memiliki klamida dan tidak segera diobati juga bisa menyebabakan kemandulan serta bisa meningkatkan rasa nyeri panggul atau skrotum kronis.

Komplikasi Pada Bayi Yang Baru Lahir

Seseorang wanita hamil yang memiliki klamida dan tidak segera diobati dapat membahayakan bayinya karena bisa terinfeksi saat akan melahirkan melalui vagina. Ada 2 masalah serius yang bisa terjadi pada bayinya, diantaranya:

  1. Pneumonia: bayi yang lahir dari ibu dengan klamidia yang tidak diobati akan memiliki resiko terkena Pneumonia dan sangat sering terjadi pada 4-12 minggu setelah melahirkan dan biasanya akan dimulai dengan gejala hidung tersebumbat dan batuk.
  2. Infeksi mata: Konjungtivitis (ophthalmia neonatorum) akan terjadi pada bayi yang baru saja lahir dari ibu yang mempunyai klamidia yang tidak segera diobati. Gejala yang muncul, seperti mata jadi merah, kelopak mata bengkak, dan cairan kental kekuningan dan akan muncul dalam 10 hari pertama pada bayi yang baru saja lahir.
  3. Sangat Penting untuk diperhatikan kembali bahwa, seorang ibu yang dirawat karena terinfeksi klamidia sebelum atau selama kehamilan harus memperhatikan kesehatannya terutama bagi wanita yang pernah melakukan hal yang beresiko. Dokter kandungan akan merekomendasikan skrining ulang untuk mendeteksi klamidia selama trimester ketiga.

  • Resiko Kanker Serviks

Seseorang wanita yang memiliki klamida dan tidak segera diobati juga rentan terkena kanker serviks akibat human papillomavirus (HPV).

Koinfeksi HPV dan klamidia dapat meningkatkan seorang wanita terkena kanker serviks. Klamidia merupakan salah satu indikator tertinggi dari keganasan kanker serviks.

Peradangan pada organ panggul yang terkait dengan klamidia juga bisa meningkatkan perubahan penyebab kanker serviks oleh virus HPV. Namun secara umum, infeksi HPV meruapakan salah satu penyebab utama perkembangan dari kanker serviks, bukan klamidia.

  • Limfogranuloma Venereum

Tidak seperti serotipe Chlamydia trachomatis yang umum terjadi dan menyebabkan infeksi, ada beberapa varian klamidia (L1, L2, dan L3) yang juga bisa menyebabkan sindrom yang sangat parah atau biasa dikenal sebagai limfogranuloma venereum (LGV). 

Infeksi ini termasuk gejala sistemik dan limfadenopati yang terkadang dapat disalahartikan dengan penyakit lain, seperti sifilis. Untuk pengobatan serovar LGV memang lebih lama dari pada jenis serotipe Klamidia lainnya.

Gejala Limfogranuloma venereum biasanya dimulai dengan adanya benjolan pada alat kelamin satu atau dua minggu setelah papapran dan akan berkembang menjadi luka ulseratif terbuka. Kelenjar getah bening akan membengkak dan gejala mirip seperti flu dan terjadi pada 2-6 minggu kemudian.

Beberapa Gejala Limfogranuloma Venereum, diantaranya:

  1. Mengigil dan Demam
  2. Kelenjar getah bening yang menjadi besar dan terasa lembut pada area selangkangan (kelenjar inguinal)
  3. Nyeri otot
  4. Luka terbuka pada alat kelamin (ulkus kelamin) pada area bakteri masuk ke dalam tubuh
  5. Komplikasi bisa terjadi bertahun-tahun karena adanya kerusakan pada sistem limfatik yang ada di selangkangan.
  6. Trakhoma
  7. Trakhoma merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di seluruh dunia, trakoma bukan termasuk IMS, tetapi dapat ditularkan lewat sekresi dari mata atau hidung. Infeksi akan dimulai dengan kemerahan serta kondisi di mana bulu mata akan mengarah kedalam dan menggaruk bagian kornea.

Jika mengalami Gejala mata apa pun harus segera dievaluasi secara menyeluruh untuk memghindari berbagai kondisi lainnya yang tidak di sadari. Melakukan perawatan yang tepat bisa mempertahankan penglihatan mata. (Trakhoma juga bisa disebabkan oleh berbagai jenis Chlamydia trachomatis dibandingkan dengan jenis infeksi genital lainnya).

Kapan Harus Pergi Ke Dokter

Sangat dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter apabila memiliki tanda atau gejala klamidia (atau gejala lain yang dirasa mengkhawatirkan).

Seseorang yang aktif secara seksual diluar nikah, harus diskrining klamidia setiap tahun untuk mendeteksi adanya bakteri klamidia.

Skrining IMS / PMS lain juga sangat penting, karena faktor risiko klamidia juga dapat meningkatkan kemungkinan tertular infeksi menular lainnya. Jika seseorang dirawat karena klamidia, pastikan untuk memberi tahu segala keluhan dan gejala yang menetap pada dokter.

Memang terlihat sulit untuk mengetahui potensi komplikasi klamidia, tetapi ada banyak cara yang biasa dilaukan oleh dokter untuk mencegah terjadinya komplikasi dengan cara melakukan pemeriksaan yang sesuai prosedur.

yadokter

SouletZ
SouletZ Hidup Jangan Terlalu Serius Nanti Lupa Bahagia Jalani Nikmati dan Syukuri Percaya Saja Suatu Saat Kebahagiaan datang menghampiri | No Day Without Smile

Posting Komentar untuk "Mengenal Gejala Penyakit Klamidia"